Source of Wisdom

Zhu Ge Liang

Sudah lama saya tidak menulis catatan…. malam ini ketika mencari data tambahan dalam perkuliahan, penulis menemukan jawaban dari sebuah pertanyaan yang muncul setelah penulis melihat film “Red Cliff”. Bagi teman-teman sekalian yang pernah melihat film Red Cliff 1 & 2, pasti menemukan keseruan, kecerdasan dan ketangkasan mengatur strategi dari seorang ahli strategi bernama Zhuge Liang. Begitu mempesonanya film tersebut dikemas, sehingga kita dapat menikmati “SENI” pertarungan manajemen strategic di dalamnya. Setelah melihat kedua film tersebut, dalam benak saya pernah muncul pertanyaan “Ini diangkat dari sebuah kisah nyata atau tidak ya……?” Teman-teman di tempat kuliah ada yang menjawab “bukan”, ini hanyalah sebuah cerita saja. tapi ada juga yang menjawab “mungkin saja”.

Catatan : Kalau ingin tahu dimana serunya, Lebih baik teman-teman yang belum melihat film Red Cliff, coba lihat dulu film red cliff-nya agar tahu kenikmatan melihat pertarungan strateginya.

Nah ketika mencoba mencari data, penulis menemukan kalau ternyata Zhuge Liang adalah seorang tokoh yang sangat dikagumi di Cina. dan memang dia terkenal karena kehandalannya membuat strategi.
Ketika mencoba membaca data-data sejarah kerjaan Cina di abad ke-3, ternyata strategi yang dibuat oleh Zhuge Liang cukup banyak dan luar biasa bagusnya. (akan saya tulis dicatatan berikutnya tentang strategi-strategi yang pernah dibuat oleh Zhuge Liang tapi tidak tertampilkan di film Red Cliff).
Semakin mempelajari sejarahnya, membuat saya termotivasi untuk belajar lebih semangat menjadi orang besar yang memiliki karya besar hingga terukir dalam sejarah. Ketika kita ingin jadi orang yang memiliki banyak karya atau menjadi orang yang besar, ada beberapa cara, diantaranya adalah melihat bagaimana proses seseorang tadi menjadi orang besar, atau bagaimana ketika dia jadi orang besar, atau juga apa ilmu yang diajarkan dia saat dia menjadi orang besar.

Menurut saya, orang seperti Zhuge Liang pasti berusaha menurunkan ilmunya pada seseorang, dan dia pasti telah belajar dari pengalaman-pengalaman selama hidupnya ketika mengajarkan ilmu tersebut. oleh karena itu, Mari kita simak bagaimana Kong Ming (nama aslinya Zhuge Liang (諸葛亮), ahli strategi militer kerajaan Shu pada zaman Samkok, abad ke-3) yang tersohor itu mendidik puteranya:

Pelajaran ke-1: Kekuatan Hening

Zhuge Liang mengingatkan kepada putranya, ketenangan, berpikir dengan tenang dan instrospeksi, baru bisa mengultivasi jiwa dan raga. Jika tak ada ketenangan, tak akan mampu merencanakan masa depan dengan efektif.

Selain itu persyaratan utama dalam pendidikan ialah, memiliki suasana tenteram. Orang zaman sekarang kebanyakan seharian sibuk, bukankah sebaiknya Anda di dalam kesibukan dapat menenangkan diri Anda, renungkan sejenak arah kehidupan manusia?

Pelajaran ke-2: Kekuatan Berhemat

Ia menasehati putranya agar berhemat, untuk pembinaan moralitas diri sendiri. Dengan seksama mengatur aset, mempertimbangkan pemasukan ketika mengeluarkan uang, selain bisa lolos dari kerisauan dalam berhutang, malah bisa hidup dengan sederhana dan berdisiplin, tak diperbudak oleh materi.

Di dalam masyarakat beradab yang merangsang orang untuk konsumtif, apakah Anda pernah berpikir tentang manfaat berhemat?

Pelajaran ke-3: Kekuatan Perencanaan

Menasehati putranya dalam kehidupan harus ada rencana, jangan dalam segala hal mengutamakan nama dan kepentingan, baru bisa paham tentang tujuan hidup diri sendiri.

Dalam menghadapi masa depan, apakah Anda memiliki idealisme? Apakah Anda memiliki misi? Apakah Anda memiliki pandangan hidup sendiri?

Pelajaran ke-4: Kekuatan Belajar

Menasehati putranya tentang suasana yang tenang sangat bermanfaat dalam belajar, tentu diiringi dengan suasana jiwa yang tenang dan damai, akan semakin melipat-gandakan hasil.

Zhuge Liang bukan penganut teori bakat, ia percaya ketrampilan adalah hasil dari belajar. Sudahkah Anda sepenuh hati dalam belajar? Apakah Anda percaya mau bergiat baru ada sukses?

Pelajaran ke-5: Kekuatan Nilai Tambah

Ia mengingatkan putranya, investasi di dalam kehidupan, hendak mempunyai nilai tambah harus mempunyai tekad dahulu, tidak mau belajar dengan giat, maka tidak bisa menambah ketrampilan diri sendiri.

Akan tetapi, di dalam proses belajar, tekad dan keuletan sangatlah penting. Karena kekurangan kekuatan tekad, bisa gagal di tengah jalan.
Pernahkah Anda memikirkan, pada awal kegiatan banyak yang datang, tetapi hanya sedikit yang dapat bertahan sampai akhir?

Pelajaran ke-6: Kekuatan Kecepatan

Ia mengingatkan puteranya jika mengulur-ulur setiap permasalahan maka tidak akan mampu menguasai hal krusial dengan cepat.

Komputer telah merakyat yang menandakan zaman kecepatan telah tiba. Tak dinyana, kecerdasan orang arif pada 1.800 tahun silam, kebetulan juga sama dengan zaman sekarang.
Lebih cepat 1 langkah daripada orang lain, selain mudah mencapai idealismenya, juga memiliki waktu yang lebih banyak untuk merevisi dan memperbaikinya.

Pelajaran ke-7: Kekuatan watak

Zhuge Liang mengingatkan puteranya, apabila terlalu terburu nafsu maka tidak dapat menempa watak. Psikiater mengatakan, “Pikiran mempengaruhi tindakan, tindakan mempengaruhi kebiasaan, kebiasaan mempengaruhi watak, watak mempengaruhi nasib.”

Zhuge Liang memahami bahwa di dalam kehidupan diharuskan melakukan bermacam-macam tindakan penyeimbang, harus “gigih dalam mengerjakan sesuatu”, juga sekaligus “membenahi watak”. Bukankah Anda hendak meningkatkan kualitas watak Anda sendiri?

Pelajaran ke-8: Kekuatan Waktu

Ia memperingatkan kepada puteranya bahwa waktu bergulir dengan cepat, tekad kuat bisa saja terkikis habis oleh waktu, “Tidak bergiat di kala muda, duka nestapa di hari tua.”

Manajemen waktu adalah konsep manusia zaman sekarang, coba pikirkan dengan teliti, waktu itu tak mampu diatur, setiap hari 24 jam, tak lebih dan tak kurang. Hanya mengatur diri sendiri dapat memanfaatkan setiap menit dan setiap detik barulah metode terbaik. Coba Anda renungkan, apakah Anda pernah membuang-buang waktu?

Pelajaran ke-9: Kekuatan Daya Imajinasi

mengatakan kepada puteranya bahwa waktu terus berjalan, ketika diri sendiri berubah tidak selaras dengan dunia, menyesalinya kemudian tak juga dapat diperbaiki. Harus mengerti “Persiapan mental setiap saat, apabila terjadi hal tak terduga”, tidak panik di saat bahaya mengancam.

Daya imajinasi lebih berperan dibandingkan dengan ilmu pengetahuan. Sudahkah Anda, dalam berpikir bertitik-tolak dari yang makro, dan menindak-lanjutinya secara mikro, dengan tulus dan sungguh hati merencanakan kehidupan?

Pelajaran ke-10: Kekuatan Yang Sederhana

Selembar surat yang ditulis oleh Zhuge Liang kepada puteranya, hanya menggunakan 86 aksara, dengan ringkas pesan telah tersampaikan.

Saya percaya pengungkapan yang sederhana bersumber dari pikiran yang jernih. Isi yang terlalu bertele-tele, mudah membuat orang jemu. Komunikasi yang sederhana hasilnya lebih efektif.

Apakah Anda memahami konsep komunikasi sederhana dengan “bertutur-kata dan menulis yang berbobot”?

Semoga cerita diatas dapat bermanfaat bagi kita semua…. selamat berkembang menjadi orang-orang besar…. Belajar bagaimana orang besar membuat

Comments on: "Surat dari “Zhuge Liang” (Ahli Strategi Kerajaan Shu di abad ke3) untuk anaknya Bagikan" (2)

  1. Wah… izin copy ya… amankan dulu..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: